Tuesday, 28 October 2014

my hope.

Beberapa waktu yang lalu, pernah terlontar dari mulut Syifa, "bu, tau ngga teman aku yang juara kelas itu pun masih suka mencontek. Menurutku dia pintar sih, tapi, kenapa juga dia masih nyontek".
Begitu kira-kira lontaran uneg-unegnya. Syifa, yang memang aku biasakan agar bangga dengan hasil berapapun asal itu dari kerja dan usaha dia sendiri, saat itu seperti bimbang dan ragu.
Ah, jadi teringat masa-masa aku sekolah. Ya, memang sulit untuk menjadi bangga dengan usaha sendiri, ketika hanya hasil akhir yang menentukan, tak ada penilaian proses.
Meyakinkan anak untuk tetap bangga dengan hasil karya sendiri di tengah jaman saat ini sungguh seperti melawan arus yang sangat deras. Apalagi, kini, banyak bermunculan orang-orang yang hebat disisi karier dan finansial tapi buruk dari sisi akhlaq/aqidah, bahkan tak banyak yang memiliki trackrecord yang rusak untuk mencapai sukses tersebut.
Terkadang, kepikiran juga, apakah aku, sebagai ibu mereka, telah memberikan porsi yang pas terhadap adab/aqidah/akhlaq. Atau apakah aku malah menjadi ibu yang mengorientasikan mereka hanya bangga dengan materi, hidup secara konsumtif dan pencapaian dunia yang berlebih.. Duh, aduh...
Dari kengerian itu, saat ini, aku mencoba melarikan anak-anakku untuk menghapal Al Qur'an, berharap agar hati-hati mereka lunak dan menjadi jernih dari menghapal ayat-ayat suci. Berharap hati mereka akan selalu terpaut dengan Al-Qur'an dan selalu menjaganya. Sebuah harapan dengan hati yang lunak inilah sebagai modal agar mudah menanamkan aqidah yang lurus, mengajarkan adab-adab yang benar. Bukankah begitulah Rosulullah SAW mengajarkan, dengan terlebih dahulu menyentuh hati setiap insan dengan kalamullah yang sungguh indah. Seorang Umar yang keras pun merasa tersentuh hatinya ketika dibacakan beberapa ayat-ayat Allah. Dengan hati yang sudah lunak ini, maka baru dimulailah pendidikan terhadap aqidah dan akhlaq. Dan ini harus ditempuh sepanjang hayat, pendidikan akhlaq bukan hanya satu atau dua tahun saja, tapi bertahun-tahun. Saat ini, aku baru memulainya dan perjalanan masih sangat jauh karenanya ikhtiar yang aku lakukan harus diiringi dengan do'a yang tak pernah putus, do'a agar kelak anak-anak yang aku lahirkan, menjadi insan yang memiliki akhlaqul karimah. agar kelak, ketika aku tak ada disisi mereka, mereka tetap teguh berada dijalan yang diridhoi oleh Allah SWT, insyaallah bi iznillah.  aamiiin ya robbal 'Alamiin,

catatan seorang ibu

Sunday, 12 October 2014

Dunia, Oh Dunia..!

Beberapa kali ku mendengar, letakkan dunia ditangan jangan dihati, atau ada lagi versi lainnya, kita boleh saja hidup didunia tapi jangan sampai dunia hidup didalam diri kita. Sepertinya hal yang biasa saja, tapi untuk saat ini memang itu suntikan yang aku perlukan.
Siapa sih yang tak tergoda untuk punya mobil. Anak sudah 3, sudah besar pula mereka. Motor tak cukup rasanya membawa mereka. Sempat tergoda ketika suami membawa mobil double cabin, strada mitsubitsi milik kantor..aakaka... ahaay, mobil idaman dari jaman baheula. Saking pengennya, disearching sama suami, lumayanlah harga seken nya. E tapi... lihat pajak pertahunnya, masyaallah.. 5 jt/tahun hanya buat mobil keren itu... Hhhmmm tar dulu deh, mikir double untuk punya double cabin. Sepertinya kok ya eman-eman yaa.. 5jt/ tahun artinya 400an ribu perbulan cuma buat pajak. Aduuh, meskipun ada sii uang segitu tapi kok ya selfish banget, masih banyak orang yang ngga mampu. Orang yang butuh uang 400an ribu. jadi mikir, orang-orang yang punya mobil dengan pajak tinggi ituuuu...

Bergerak

Ketika diri sudah siuman dari pingsan, hal yang harus dilakukan adalah bergerak. Ya, bergerak, tak boleh diam dan hanya mengawang-awang. Dengan bergerak, melakukan tindakan, maka semua angan akan tercapai. Salah satu cara awal agar dapat bergerak dan terbebas dari pingsan, jauhkan gadget dari tangan, kemudian lakukan kegiatan di dunia nyata.
hehehe...

Monday, 6 October 2014

ketika rindu itu muncul...

Tetiba, malam ini kangen sama suasana lab di MIPA tempo dulu gara-gara tak sengaja mengintip aktivitas teman-teman se angkatan dan beberapa dosen yang dulu masih junior sekarang sudah master. Kangen, dengan kegiatan di lab, dan sontak jadi pengen balik ke lab. Tapi, yakin deh itumah akan membuat sengsara anak, coz, menceburkan diri dan larut dalam dunia penelitian itu bisa membuatku lupa daratan. Lupa sama tugas utama sebagai ibu dan istri..hahaha...
Dulu, keinginanku yang utama adalah menjadi peneliti, why?, peneliti tu humble, ngga neko-neko. meski hidup sederhana, tapi, punya kepuasan tersendiri.

Sunday, 10 August 2014

GALAU tingkat tinggi

Beberapa lama ini saya merasa berada dititik paling bawah, merasa tak sanggup memikul beban dengan ketiga amanah saya. Mengapa? Saya merasa, bagaimana saya bisa mengatakan, semangat nak, belajarlah sungguh-sungguh, kejarlah cita-citamu, tapi, ketika melihat ke diri sendiri, buat apa memberi semangat ke anak-anak, padahal saya hanya seorang ibu rumah tangga. Mengejar cita-cita apa, lah wong ibunya saja kuliah tapi kok ya jadi ibu rumah tangga saja. Apa yang bisa dijadikan motivasi?! Belajarlah nak, biar nanti kamu jadi ibu rumah tangga, seperti ibu, begitu? Rasanya kok ya, sedih sekali. Sering teringat dengan kedua orangtua saya yang susah dan letihnya dahulu, mengorbankan segala yang mereka punya agar saya dapat sekolah hingga perguruan tinggi, menambah kekalutan saya. Sedih? oya, tentu saja, makin sedih malah jika teringat pengorbanan mereka, pengorbanan kedua kakak, menjadikan saya semakin melow dan sering menangis dalam kesendirian.  Iri dengan perempuan yang bisa keluar dan berkiprah diluar? oya, sangat. Tergoda untuk meniti karier dari nol lagi, rasa itu sering muncul. Apalagi disaat-saat kondisi keuangan rumah tangga sedang dibawah titik nol bahkan minus! Ingin rasanya, membantu suami, tapi, selalu ada ragu yang dalam, sangat dalam.Tak memiliki motivasi dan tujuan benar-benar membuat hilang arah, seperti robot. Dan berakhir, ya sudahlah, mau jadi apakek nantinya. Sangat lama saya berada dalam bimbang, antara menjadi full time mother dan meniti karier kembali. Gimana ngga lama, sudah punya anak tiga masih juga bimbang, dan galau, hiks..
Padahal, dulu, sebelum nikah, pun, saya sudah mentargetkan kalau punya anak saya ingin menjadi madrasah nya anak-anak saya, ya, cita-cita yang idealis sekali. Hingga, ketika ditanya, ngapain kuliah tinggi-tinggi kalau nantinya jadi ibu rumah tangga, dengan mantap saya katakan agar bisa mendidik anak-anak dengan lebih baik lagi, karena seorang ibupun harus cerdas, agar anak-anaknya juga cerdas. Kalau ingat ini, jadi malu semalu-malunya. Praktek lebih berat dari teorinya, ternyata. Huhuhu..Dan ternyata, menikah dengannya, pun, karena my hubby tahu benar tujuan saya kuliah dan target pasca menikah, ingin mendidik anak-anaknya. Makanya doi pilih saya, katanya, ehem.. (malu lagi dweeeh)
Dalam galau dan bimbang serta kepasrahan yang tak menentu, akhirnya, saya mulai memotivasi diri, berusaha menerima dan mendekatkan diri dengan teman-teman yang enjoy sebagai ibu rumah tangga. Mencari teman baru yang juga punya motivasi sama seperti saya, menjadi fulltime mother. Berusaha tidak iri melihat teman-teman yang sukses di dunia karier, berusaha cuek saja dan memaafkan semua kesalahan diri sendiri ternyata sangat penting. Bersyukur karena memiliki suami yang mau menanggung beban dipundaknya mencari nafkah buat kami, dan menerima berapapun penghasilan suami. Bersabar dalam semua keadaan, baik dalam suka maupun duka, meski ini berat dalam prakteknya. 
Istilahnya, mencari identitas yang lama hilang...hahay, kayak abg aja, e tapi happen to me! Banyak membaca kisah-kisah perempuan ketika jaman Rosulullah, dan tabiin menjadikan saya benar-benar termotivasi. Begitulah seharusnya perempuan, harus tetap belajar dan belajar, apalagi seorang ibu yang ingin mendidik anak-anaknya, harus ekstra belajarnya, karena, saya pun ingin menjadi seperti mereka. Hingga detik inipun, saya tetap harus memotivasi diri, tidak gampang perjuangan menjadi fulltime mother, tapi, bukan berarti ngga bisa, ini perjuangan saya. Sama seperti perjuangan perempuan lain yang meniti karier, saya yakin, banyak dilemanya. Selama punya tujuan dan motivasi serta dukungan, maka apapun itu, akan kembali kepada niatnya. 
 inilah niat, motivasi dan tujuan saya:

 "being full time mother is one of the highest salaried jobs since the payment is jannah"

Doa dan berdoa, giat belajar dan tetap terus belajar, berusaha dan terus berusaha. Semoga terwujud... aaamiin.
 

Thursday, 6 March 2014

analogi yang buat saya masih mengganjal.

Marah. Setiap orang pernah melakukannya. Pernahkah membaca kisah tentang serang bapak yg menunjukkan akibat marah yang tak terkontrol kepada anaknya? Yang si anak disuruh memaku paku dipapan setiap kali marah? Dan kemudian setelah lama berselang,   si anak ditunjukkan akibat dari memaku yang mengakibatkan papannya bolong-bolong? Sang bapak menganalogikan hati orang yg kita perlakukan kasar krn marah kita itu adalah papan yang bolong, dan katanya kita sudah membuat lubang yang tidak bisa di perbaiki lagi.

Ada kisah lagi, alkisah diceritakan seorang anak yang dibuang oleh kakaknya, tapi setelah bertahun-tahun kemudian, sang anak malah mencari kakaknya dan membalas perbuatan kakaknya dengan kebaikan yang banyak. Tak ada dendam dihati sang adik kepada para kakak.

Kedua cerita diatas sangat kontras kan?
Katanya orang yang dilukai perasaannya akan terluka dan tidak dapat digantikan lagi.

Hati itu seluas samudra. Subhanallah, Allah menciptakan hati bukan dari selembar papan, yang jika kita paku akan bolong dan jika kita patahkan akan rusak dan tidak akan bisa balik lagi. Hati adalah raja ditubuh. Jika hatinya buruk maka akan buruklah perbuatan anggota tubuh yang lain. Jika hatinya baik maka akan baik pula perbuatan anggota badan yang lain.

Jadi, buat Saya, analogi papan bolong ngga banget deh. Insyaallah, ketika kita salah, dan melakukan hal yang buruk maka, meminta maaf itu harga mati.  Sedangkan perangai/sifat orang itu memang sudah bawaan. Seorang yang memiliki temperamen keras,   tegas akan berbeda dengan seseorang yang memang lemah lembut. Sebagai contoh, Umar bin Khattab dan Abu Bakar Assyidiq merupakan dua shahabat nabi yang memiliki perangai berbeda. Umar terknal dengan perangainya yang keras, sedangkan Abu Bakar adalah orang yang lembut. Apakah Umar dianggap sebagai orang yang jahat sedanhkan Abu Bakar orang yang baik? Ternyata tidak, Mereka semua dapat diterima dengan baik oleh Islam, mereka dapat di tarbiyah menjadi pribadi yang tangguh dengan karakter asli yang masih melekat di masing-masing pribadi.
Jadi buat saya, berhati-hati menganalogikan itu lebih baik.  malah lebih baik kita mengelola hati dengan benar, menyirami hati dengan ilmu yang baik, yang benar, mencontoh kisah kisah dari orang terdahulu yang sudah terjamin  akhirnya seperti apa.
Wallahu'alam.

Saturday, 26 October 2013

Membaca itu bukannya wajib, tapi sangat diwajibkan.

Hari ini Saya membuat blog baru. Niat awalnya sebagai coretan-coretan kecil saja. Tapi ternyata, menulis itu sangat berkaitan dengan membaca. Bagaimana kita bisa menulis, jika kita tidak pernah membaca. Dan terbukti, ketika saya mencoba menulis buah pikiran saya, tidak satupun kata yang pas untuk ditulis, saya memerlukan waktu berjam-jam untuk menulis kemudian saya hapus, tulis dan hapus dan akhirnya hanya penggalan kalimat ini saja yang menurut saya layak untuk di tulis:
Setiap masalah, biasanya ada solusi. Tinggal kita, akankah kita menyelesaikannya atau tidak.  Terkadang masalah yang kita anggap remeh, justru ternyata itulah akar permasalahan sebenarnya yang harus diselesaikan.
Sudah, selesai tak ada kalimat-kalimat yang menarik, tak layak untuk di publis, datar. Dan jangan ditanya, berapa lama proses tulis hapus yang saya kerjakan untuk menulis beberapa kalimat diatas. Jadi, mulailah dari sekarang, giatkan membaca, membaca dan membaca.
Membaca, iya, membaca.. Membaca sepertinya perkara yang mudah, tinggal membaca, ga susah. Ya, kalau memang ga ada yang susah, tinggal mbaca, ya sudah kerjakan saja, membaca, ngga hanya berkata "tinggal mbaca, apa susahnya" tapi lakukanlah proses tersebut, membaca dan teruslah membaca. Jangan pernah meremehkan masalah yang kecil, awalnya bacalah buku satu saja, kemudian baca lagi dua buku, dan akhirnya akan banyaklah buku yang telah kita baca. Dari proses membaca, kita akan menemukan khasanah tulisan, dari gaya penulisan, kosakata baru, gaya tulisan yang baik, menarik dan bisa dimengerti pembaca. Kemudian juga dari membaca banyak buku, kita akan tahu ilmu bagaimana  menulis yang baik, bagaimana menulis ungkapan, buah pikiran kedalam sebuah karya tulis yang orang lain juga tertarik untuk membaca. Betul ngga? Jadi, jika "hanya" ingin menulis coret-coret, yaaa, teryata sangat wajib banyak membaca. Dan kalimat diatas sudah mempresentasikan, kelemahan saya, masalah yang remeh, membaca, itulah yang jadi permasalahan saya yang katanya ingin membuat tulisan coret-coret. Masalah yang remeh, yang ternyata mengakibatkan masalah besar, Saya tidak bisa menuliskan buah pikiran saya dengan baik dan pas.
Jadi, sekali lagi...Selesaikan saja dahulu, masalah remeh mu itu, membaca itu bukannya wajib, tapi SANGAT wajib. ^_^