Marah. Setiap orang pernah melakukannya. Pernahkah membaca kisah tentang serang bapak yg menunjukkan akibat marah yang tak terkontrol kepada anaknya? Yang si anak disuruh memaku paku dipapan setiap kali marah? Dan kemudian setelah lama berselang, si anak ditunjukkan akibat dari memaku yang mengakibatkan papannya bolong-bolong? Sang bapak menganalogikan hati orang yg kita perlakukan kasar krn marah kita itu adalah papan yang bolong, dan katanya kita sudah membuat lubang yang tidak bisa di perbaiki lagi.
Ada kisah lagi, alkisah diceritakan seorang anak yang dibuang oleh kakaknya, tapi setelah bertahun-tahun kemudian, sang anak malah mencari kakaknya dan membalas perbuatan kakaknya dengan kebaikan yang banyak. Tak ada dendam dihati sang adik kepada para kakak.
Kedua cerita diatas sangat kontras kan?
Katanya orang yang dilukai perasaannya akan terluka dan tidak dapat digantikan lagi.
Hati itu seluas samudra. Subhanallah, Allah menciptakan hati bukan dari selembar papan, yang jika kita paku akan bolong dan jika kita patahkan akan rusak dan tidak akan bisa balik lagi. Hati adalah raja ditubuh. Jika hatinya buruk maka akan buruklah perbuatan anggota tubuh yang lain. Jika hatinya baik maka akan baik pula perbuatan anggota badan yang lain.
Jadi, buat Saya, analogi papan bolong ngga banget deh. Insyaallah, ketika kita salah, dan melakukan hal yang buruk maka, meminta maaf itu harga mati. Sedangkan perangai/sifat orang itu memang sudah bawaan. Seorang yang memiliki temperamen keras, tegas akan berbeda dengan seseorang yang memang lemah lembut. Sebagai contoh, Umar bin Khattab dan Abu Bakar Assyidiq merupakan dua shahabat nabi yang memiliki perangai berbeda. Umar terknal dengan perangainya yang keras, sedangkan Abu Bakar adalah orang yang lembut. Apakah Umar dianggap sebagai orang yang jahat sedanhkan Abu Bakar orang yang baik? Ternyata tidak, Mereka semua dapat diterima dengan baik oleh Islam, mereka dapat di tarbiyah menjadi pribadi yang tangguh dengan karakter asli yang masih melekat di masing-masing pribadi.
Jadi buat saya, berhati-hati menganalogikan itu lebih baik. malah lebih baik kita mengelola hati dengan benar, menyirami hati dengan ilmu yang baik, yang benar, mencontoh kisah kisah dari orang terdahulu yang sudah terjamin akhirnya seperti apa.
Wallahu'alam.