Beberapa lama ini saya merasa berada dititik paling bawah, merasa tak sanggup memikul beban dengan ketiga amanah saya. Mengapa? Saya merasa, bagaimana saya bisa mengatakan, semangat nak, belajarlah sungguh-sungguh, kejarlah cita-citamu, tapi, ketika melihat ke diri sendiri, buat apa memberi semangat ke anak-anak, padahal saya hanya seorang ibu rumah tangga. Mengejar cita-cita apa, lah wong ibunya saja kuliah tapi kok ya jadi ibu rumah tangga saja. Apa yang bisa dijadikan motivasi?! Belajarlah nak, biar nanti kamu jadi ibu rumah tangga, seperti ibu, begitu? Rasanya kok ya, sedih sekali. Sering teringat dengan kedua orangtua saya yang susah dan letihnya dahulu, mengorbankan segala yang mereka punya agar saya dapat sekolah hingga perguruan tinggi, menambah kekalutan saya. Sedih? oya, tentu saja, makin sedih malah jika teringat pengorbanan mereka, pengorbanan kedua kakak, menjadikan saya semakin melow dan sering menangis dalam kesendirian. Iri dengan perempuan yang bisa keluar dan berkiprah diluar? oya, sangat. Tergoda untuk meniti karier dari nol lagi, rasa itu sering muncul. Apalagi disaat-saat kondisi keuangan rumah tangga sedang dibawah titik nol bahkan minus! Ingin rasanya, membantu suami, tapi, selalu ada ragu yang dalam, sangat dalam.Tak memiliki motivasi dan tujuan benar-benar membuat hilang arah, seperti robot. Dan berakhir, ya sudahlah, mau jadi apakek nantinya. Sangat lama saya berada dalam bimbang, antara menjadi full time mother dan meniti karier kembali. Gimana ngga lama, sudah punya anak tiga masih juga bimbang, dan galau, hiks..
Padahal, dulu, sebelum nikah, pun, saya sudah mentargetkan kalau punya anak saya ingin menjadi madrasah nya anak-anak saya, ya, cita-cita yang idealis sekali. Hingga, ketika ditanya, ngapain kuliah tinggi-tinggi kalau nantinya jadi ibu rumah tangga, dengan mantap saya katakan agar bisa mendidik anak-anak dengan lebih baik lagi, karena seorang ibupun harus cerdas, agar anak-anaknya juga cerdas. Kalau ingat ini, jadi malu semalu-malunya. Praktek lebih berat dari teorinya, ternyata. Huhuhu..Dan ternyata, menikah dengannya, pun, karena my hubby tahu benar tujuan saya kuliah dan target pasca menikah, ingin mendidik anak-anaknya. Makanya doi pilih saya, katanya, ehem.. (malu lagi dweeeh)
Dalam galau dan bimbang serta kepasrahan yang tak menentu, akhirnya, saya mulai memotivasi diri, berusaha menerima dan mendekatkan diri dengan teman-teman yang enjoy sebagai ibu rumah tangga. Mencari teman baru yang juga punya motivasi sama seperti saya, menjadi fulltime mother. Berusaha tidak iri melihat teman-teman yang sukses di dunia karier, berusaha cuek saja dan memaafkan semua kesalahan diri sendiri ternyata sangat penting. Bersyukur karena memiliki suami yang mau menanggung beban dipundaknya mencari nafkah buat kami, dan menerima berapapun penghasilan suami. Bersabar dalam semua keadaan, baik dalam suka maupun duka, meski ini berat dalam prakteknya.
Istilahnya, mencari identitas yang lama hilang...hahay, kayak abg aja, e tapi happen to me! Banyak membaca kisah-kisah perempuan ketika jaman Rosulullah, dan tabiin menjadikan saya benar-benar termotivasi. Begitulah seharusnya perempuan, harus tetap belajar dan belajar, apalagi seorang ibu yang ingin mendidik anak-anaknya, harus ekstra belajarnya, karena, saya pun ingin menjadi seperti mereka. Hingga detik inipun, saya tetap harus memotivasi diri, tidak gampang perjuangan menjadi fulltime mother, tapi, bukan berarti ngga bisa, ini perjuangan saya. Sama seperti perjuangan perempuan lain yang meniti karier, saya yakin, banyak dilemanya. Selama punya tujuan dan motivasi serta dukungan, maka apapun itu, akan kembali kepada niatnya.
inilah niat, motivasi dan tujuan saya:
"being full time mother is one of the highest salaried jobs since the payment is jannah"
Doa dan berdoa, giat belajar dan tetap terus belajar, berusaha dan terus berusaha. Semoga terwujud... aaamiin.